



Dengan suami tercinta…dan
Diantara anak-anak terkasih…….
Saat - saat paling membahagiakan
Ketika seorang ibu pekerja mendapatkan libur di akhir pekan, adalah saat yang membahagiakan baik bagi ibu maupun bagi anak-anaknya.
Saat yang membahagiakan bagi ibu karena dapat menghabiskan waktu bersama setelah dijejali dengan kesibukan kerja.
Membahagiakan bagi anak karena akhirnya dapat memiliki si ibu seutuhnya , dapat menghabiskan waktu untuk bercerita tentang kesibukan sekolahnya dengan nyaman, tanpa terburu-buru.
Ada saatnya saat liburan tidak dapat dinikmati anak sepenuhnya karena saat menghabiskan waktu liburan si ibu masih membawa setumpuk tugas yang harus diserahkan pada keesokan harinya. Atau saat bermain bersama, si anak hanya bermain bersama karena si ibu asyik bertelefon dengan rekan bisnisnya.
Kualitas. Kualitas kebersamaan yang perlu dibangun diantara ibu anak. Yang lebih baik lagi adalah kualitas dan kuantitas kebersamaan yang sangat diperlukan untuk membangun suatu sinergi yang harmonis yang tidak dapat diulangi lagi pada saat-saat mendatang pada saat anak sudah mempunyai dunianya sendiri.
Kebersamaan dan kecintaan yang dibangun sejak dini akan menjadi pengikat ibu anak yang tidak akan lekang di makan zaman.
Ketika seoran ibu memutuskan untuk menjadi wanita pekerja, maka sudah harus difikirkan mengenai kebersamaan ini. Dengan kualititas pertemuan yang meskipun hanya weekend tetapi bermanfaat dan berkesan, akan menumbuhkan rasa rindu dari anak akan weekend-weekend yang akan datang.
Anak belajar dari Kehidupannya
Jika anak dibesarkan dengan celaan
Ia akan belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan
Ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan
Ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan
Ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi
Ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan
Ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian
Ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan
Ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman
Ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan
Ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan
Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
By. Dorothy Law Notle
LIFE IS A GIFT
Today,
Before you think of saying an unkind word
- Think of someone who can’t speak
Before you complain about the taste of your food
- Think of someone who has nothing to eat
Before you complain about your husband or wife
- Think of someone who’s crying out to God for a companion
Today before you complain about life
- Think of someone who went too early to heaven
Before you complain about your children
- Think of someone who desires children but they’re barren
Before you argue about your dirty house, someone didn’t clean or sweep
- Think of the people who are living in the streets
Before whining about the distance you drive
- Think of someone who walks the same distance with their feet
And when you are tired and complain about your job
- Think unemployed, the disabled and those who wished they had your
job
But before you think pointing the finger or condemning another
- Remember that not one of us are without wrong doings
And when depressing thoughts seem to get you down
- Put a smile on your face and be thankful you’re alive and still around
By. Anonim
LIFE IS A GIFT
Setelah membaca sebuah makna kehidupan dari sebuah majalah yang ditulis anonim dengan menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang begitu saya membacanya membuat batin terhenyak karena selama ini saya masih mengeluh atas apa yang telah dan sedang saya jalani.
Saya kutipkan seluruhnya untuk kita renungkan :
KEHIDUPAN ADALAH ANUGERAH
Hari ini,
Sebelum lisan berkata buruk, bayangkan mereka yang tak mampu bicara.
Sebelum menghujat citarasa makanan, pikirkan mereka yang kesulitan mendapatkannya.
Sebelum mencela pasangan hidupmu, bayangkan mereka yang masih mengiba untuk dikaruniai jodoh.
Sebelum bersungut kepada kehidupan, pikirkan mereka yang telah meninggal.
Sebelum memarahi anak-anakmu, bayangkan mereka yang sulit mendapatkan keturunan.
Sebelum menggerutu malasnya membersihkan rumah, bayangkan mereka yang hidup sehari-hari di lorong jalan.
Sebelum mengomel tentang jauhnya perjalanan saat berkendara, bayangkan mereka yang berjalan kaki.
Sebelum mengoceh tentang pekerjaanmu, empatilah pada mereka yang menganggur dan berharap bisa memiliki posisi sepertimu.
Sebelum menyalahkan orang lain, ingat-ingatlah bahwa tak satu pun manusia yang hidup tanpa cela.
Dan,
Janganlah menyerah karena masalah, tapi tersenyumlah dan berterimakasihlah karena kita masih diizinkan untuk hidup.
Anonim
Semoga untuk saya pribadi dan kita semua dapat merenungkan makna yang dalam dari tulisan ini.
Menulislah terus, meskipun tidak akan menjadi hotblog atau posting pilihan…
Pada awalnya saya membuat blog ini karena rasa ketertarikan saya melihat teman-teman yang sangat asyik mengotak-atik blog mereka, sementara dilain sisi saya hanyalah seorang yang ‘gaptek’ yang hanya menggunakan peralatan komputer ataupun laptop sekedar untuk mengerjakan tugas kantor tidak untuk membuat sebuah blog. Tetapi melihat antusias dan teman-teman yang sukses dengan blog mereka , pada akhirnya dengan bantuan teman saya ‘ Ms. Dee ” saya dapat membuat blog juga.
Saya sempat bingung dengan apa yang akan saya tulis untuk mengisi ruang kosong di blog saya dikarenakan saya bukanlah seseorang yang pandai merangkai kata bak seorang pujangga yang penuh dengan bahasa kiasan dan bahsa yang berbunga-bunga. Saya hanya bisa menulis apa yang ada dalam pikiran saya dengan bahasa saya yang mungkin untuk para penulis yang sudah berpengalaman bahasa yang saya pakai dalam menulis sangatlah bahasa tulisan yang dangkal atau bahkan ‘garing’ , tak bernyawa, tak memikat siapapun untuk membacanya.
Tetapi itulah saya, saya memang tidak bisa meniru cara menulis seseorang yang sudah sangat ahli dan piawai dalam merangkai sebuah cerita ataupun karya tulis yang mungkin sangat layak mendapat penghargaan karena memang mereka terlahir dengan mendapat berkah yang luar biasa dari Tuhan untuk dengan mudah menuangkan perasaan, ide mereka ke dalam sebuah tulisan. Tetapi tidak dengan saya yang sangat terseok-seok untuk hanya dapat merangkai sebuah tulisan pendek bahkan bagi saya untuk merangkai sebuah kalimat yang enak untuk dibaca bukanlah pekerjaan yang mudah.
Tapi itulah yang dinamakan sebuah proses. Suka atau tidak suka saya selalu berusaha menuangkan apa yang terlintas di benak saya dengan menggunakan gaya bahasa yang saya punya dan hanya itulah yang saya bisa. Saya selalu ingin bisa menulis seperti NH.Dini novelis favorit saya yang selalu bertutur secara rinci dengan bahasa yang sangat ringan sehingga saya sebagai pembacanya dapat menerawang dan membayangkan situasi yang beliau tuangkangkan dalam bukunya,meskipun sudah berkali-kali buku-bukunya saya baca tetapi saya tidak bosan untuk mengulang membacanya kembali.
Ataupun saya ingin juga membuat tulisan seperti penulis buku Laskar Pelangi, seorang Andrea Hirata yang menulis sebuah novel dengan bergaya bahasa bak seorang pujangga.
Tetapi saya bukanlah NH.Dini dan bukan juga Andrea Hirata yang diberkahi Tuhan untuk menulis dengan lancar. Saya masih terbata-bata dan tertatih-tatih untuk merangkai kata sehingga mungkin saya menunggu sekian lama untuk dapat melihat tulisan saya menjadi posting pilihan ataupun hot blog.
Tidak dijadikan posting pilihan ataupun hotblog , tidak menjadikan saya berhenti menulis. Saya hanya ingin ada sebuah ruang untuk melihat sisi lain dari diri saya sendiri yang kadang saya sendiri tidak menyadarinya. Saya ingin berintrospeksi diri melalui tulisan. Saya ingin menjadikan diri lebih baik dengan membuka sebuah ruang untuk berbagi. Saya ingin membuka diri untuk bersosialisasi secra positif dengan orang yang bahkan saya tidak kenal tetapi dapat saling bertukar pikiran di dunia blog ini. Saya dapat menambah teman yang dapat saling memberi motivasi satu sama lain meskipun tidak pernah bersalaman dan bertemu muka.
Sisi positif dan berfikir positif yang akan selalu saya coba untuk ambil sehingga hidup akan lebih ringan bagi saya pribadi apabila selalu melihat sisi positif.
Tidak perlu dipilih untuk Posting Pilihan ataupun untuk ditampilkan di Hot Blog…tetapi menulislah untuk mengembangkan diri sendiri dan menjadi diri sendiri.
Mudah-mudahan dengan belajar nge-blog dan belajar menulis, teman-teman di dunia maya ini dapat memberi masukan yang positif untuk saya.
FENOMENA UASBN
Perjalanan 6 tahun di bangku Sekolah Dasar dipertaruhkan dengan nilai ujian yang ditempuh dalam waktu 3 hari untuk predikat “LULUS”. Banyak sekali siswa-siswi yang stress bahkan bukan hanya siswa-siswinya sendiri tetapi pihak sekolah dan orangtua mereka pun sedemikian stressnya menghadapi detik-detik pengumuman kelulusan tersebut.
Waktu awal pertama diadakannya ujian nasional yang saya juga menjalaninya yang pada waktu itu disebut EBTANAS , saya merasakan fenomenanya tidak seheboh akhir-akhir ini. Saya yang pada saat itu duduk di bangku kelas 6 tidak merasakan euforia yang demikian heboh. Saya sebagai pelajar pada saat itu merasa berkewajiban belajar seperti biasa dan selayaknya seorang pelajar yang harus belajar untuk memperkaya pengetahuan bukan hanya sekedar nilai akhir yang dicapai, meskipun memang pada akhirnya nilai juga yang akan diperhitungkan untuk dapat masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi.
Saya merasa pada saat itu ibu saya pun tidak serepot ibu-ibu sekarang yang ikut stress dengan ujian anak-anaknya, hal ini mungkin karena ibu saya percaya saya mampu mengikuti daan menyelesaikan EBTANAS tersebut dengan baik. Tetapi karena diberikan kepercyaan tersebut menjadikan pemicu bagi saya untuk membuktikannya kepada beliau.
Saat ini saya sebagai tenaga pengajar di Sekolah Dasar yang juga mengajar kelas 6 yang memberikan mata pelajaran IPS dan PKn.
Yang ingin saya sorot pada tulisan ini adalah pada mata pelajaran PKn atau Pendidikan Kewarganegaraan yang mengajarkan tentang moral dan perilaku yang santun, disiplin, bertanggung jawab, jujur , rela berkorban, semngat persatuan dan kesatuan, dan banyak hal lainnya yang sangat bagus sekali nilai pengetahuannya karena menyangkut harga diri pribadi.
Dalam pandangan saya, keinginan saya adalah pada pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bukan hanya nilai tinggi yang dicapai tetapi juga idealnya dengan siswa mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan tersebut, siswa juga mempunyai nilai yang tinggi atas perilaku mereka setelah mendapatkan dan mempelajari ilmu tersebut.
Miris sekali rasanya dengan banyaknya tawuran pelajar saat ini yang notabene bertolak belakang dengan pembelajaran PKn yang menanamkan tentang hidup rukun, saling menghargai. Makin sedikit siwa yang mengormati orang tua dan satun terhadap guru mereka padahal di sana mereka belajat tentang sikap menhormati dan menghargai terhadap sesama.
Juga miris sekali dengan banyaknya perilaku bayak pihak yang menyelewengkan uang negara, padahal mata pelajaran ini bukan sekarang saja diberikan tetapi sejak dahulu sudah diberikan. Dulu namanya adalah PMP atau Pendidikan Moral Pancasila, tetapi pada intinya sama yaitu mengajarkan perilaku moral dan agama, perlaku disiplin, bertanggung jawab, jujur, saling menghormati, hidup rukun, saling menghargai, mengangkat persatuan dan kesatuan. Mungkin apabila setelah mempelajarinya lalu mereka mengamalkan ilmunya, di Indonesia tidak akan ada orang yang berani menyelewengkan uang negara ataupun menghianati amanat yang diberikan rakyat kepada mereka karena nilai kejujuran yang ditanamkan.
Tetapi apakah hal tersebut hanyalah sekedar mata pelajaran Pkn yang setelah dipelajari dan mendapat nilai tinggi boleh dilupakan begitu saja. Kemungkinan ya atau bisa saja mereka semua sudah lupa akan isi mata pelajaran PKn atau bisa jadi mereka pura-pura lupa dengan pendidikan moral yang mereka pelajari.
Seyogyanya, nilai-nilai luhur yang ada pada mata pelajaran PMP atau PKPS atau PKn, apapun naa mata pelajaran tersebut berubah, tetapi idealnya nilai-nilai yang tertuang dapat tertanam di setiap perilaku siswa yang telah mempelajarinya.
Apakah saya terlalu menginginkan kesempurnaan antara nilai dan perilaku yang seimbang tersebut terjadi saat ini?
Jawabannya: “YA”, saya menginginkan keseimbangan itu terjadi.
Dalam memberikan pengetahuan tersebut di kelas saya selalu berkata kepada murid saya kalau saya menginginkan keseimbangan antara nilai yang didapat dengan perilaku yang ditimbulkannya. Saya katakan bahwa nilai 100 untuk pelajaran Pkn bisa berubah menjadi hanya nilai 50 saja apabila perilakunya tidak sesuai , begitupun sebaliknya nilai 50 yang diperoleh bisa berubah menjadi 90 bahkan 100 apabila perilaku yang ditampilkan sangat sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya.
Memang idealnya nilai yang di dapat sama bagusnya dengan perilakunya. Tetapi saat ini yang dirasa adalah siswa-siswi hanya mengejar nilai akhir yang akan tertera di ijazah padahal perilaku yang baik dan santun itulah yang akan dibawa sampai pada saat siswa-siswi bersosialisasi di masyarakat. Perilaku yang baik tersebut yang akan mencerminkan harga diri seseorang.
Saya pribadi menginginkan perubahan itu terjadi meskipun dimulai dari lingkup yang paling kecil yaitu saya sendiri , kemudian keluarga saya , lalu anak didik saya.
Mudah-mudahan pemikiran ideal saya ini perlahan-lahan dapat terwujud seiring dengan introspeksi pada diri saya sendiri yang harus dimulai sejak saat ini dan meneruskannya kepada anak-anak saya dan kemudian kepada anak didik saya.
Antara teknologi dan dampaknya
Melihat teknologi yang demikian pesat berkembang tidak dapat dipungkiri memaksa para orang tua untuk lebih jeli memilah penggunaan teknologi bagi anak-anaknya.
Tetapi hal demikian tidak semudah teori, dalam pelaksanaannya terkadang anak lebih berkuasa daripada orangtuanya. Di lain sisi banyak pula orang tua yang memilih untuk mengambil jalan “aman” dengan membiarkan anak-anaknya menggunakan teknologi yang berkembang tanpa aturan dengan alasan daripada anak main tidak menentu.
TELEVISI…teknologi yang semakin hari semakin mudah didapat dengan tampilan yang berkembang dari hari ke hari. Diluar bentuk fisiknya yang semakin hari semakin canggih televisi merupakan benda yang diidolakan oleh anak- anak maupun orang tua.
Tayangan-tayangan yang semakin beragam yang dikemas sedemikian rupa sehingga dapat menghipnotis anak-anak untuk tetap duduk diam didepannya dan membuat para orang tua terlupa kegiatannya karena takut terlewat sinetron-sinetron yang entah kapan berakhirnya.
Remote control menjadi benda yang begitu magis yang selalu menjadi rebutan bagi anak-anak.
Memang ada hal positif yang di dapat dari tayangan televisi , tapi kalau di hitung secara persentase menurut saya pribadi acara yang dilihat anak-anak sebagian besar bukanlah hal yang positif dan bermanfaat.
Orangtualah yang harus duduk bersama dan memilihkan acara yang lebih bermanfaat untuk anak-anaknya dan memberikan informasi yang mendidik tentang acara di televisi. Peran orang tua bukan hanya sekedar memberikan fasilitas tetapi juga memberikan fasilitas yang bermanfaat untuk pertumbuhan anak-anaknya.
Manfaat untuk pertumbuhan inteleginsi anak maupun pertumbuhan tubuhnya. Mengapa demikian??
Perkembangan kecerdasan anak sedikit banyak tidak berkembang hanya dengan menonton tayangan televisi saja, ya kalau acara ilmu pengetahuan yang di tonton anak..tetapi berapa persenkah acara ilmu pengetahuan yang ada di stasiun televisi kita?
Seyogyanya para ibu membatasi durasi anak dalam meonton televisi. Bagi para ibu yang tidak bekerja mungkin lebih memungkinkan untuk lebih banyak berinteraksi dengan anak dan mencari kegiatan-kegiatan yang dapat lebih mendekatkan hubungan batin antara anak dan orang tua. Bagi para ibu yang bekerja pun masih dapat mendidik anak-anaknya dan memberi kepercayaan kepada ank-anaknya untuk mempergunakan waktu sebaik mungkin dan membatasi durasi untuk acara televisi, dapat bekerja sama dengan para pengasuh untuk memantau di rumah.
Jangan merasa bangga apabila anak tidak merepotkan anda karena asyik menonton televisi.
Mengutip dari harian Pikiran Rakyat hari ini tentang semakin banyak seorang anak kecil menonton televisi, semakin besar kemungkinan prestasinya buruk di sekolah dan kesehatannya terganggu pada usia 10 tahun, kata para peneliti seperti dilansir “BBC”.
Penelitian yang melibatkan 1.300 anak oleh universitas Michigan dan Montreal menemukan dampak buruk pada anak-anak yang lebih sering nonton TV. Prestasi mereka di sekolah juga lebih buruk, sementara konsumsi makanan cepat saji juga meningkat.
Penelitian itu berdasarkan pertanyaan kepada orang tua terkait waktu anak-anak mereka menonton TV pada usia 29 bulan dan 53 bulan. Pada umumnya, anak usia dua tahun nonton TV kurang dari sembilan jam per minggu, sementara anak usia empat tahun di bawah 15 jam.
Saat anak-anak itu diteliti kembali pada usia 10 tahun, guru-guru mereka diminta untuk menilai prestasi akademis, kelakuan dan kesehatan serta indeks berat tubuh atau body mass index (BMI). Anak-anak yang nonton TV lebih banyak pada usia dua tahun lebih rendah fokusnya di kelas dan buruk dalam matematika.
Para peneliti juga menemukan penurunan aktivitas fisik namun meningkatnya konsumsi minuman ringan dan indeks berat tubuh.
Dr Linda Pagani dari Universitas Montreal yang memimpin penelitian mengatakan, usia dini adalah masa kritis untuk perkembangan otak dan pembentukan perilaku. Nonton TV pada waktu yang lama dalam usia ini dapat menyebabkan kebiasaan tidak sehat di masa depan.
“Waktu mereka akan habis di depan televisi dan tidak ada waktu untuk terlibat dalam aktivitas lain yang mendorong perekembangan kognitif. Walaupun dampak nonton TV pada usia dini akan hilang setelah tujuh setengah tahun, dampak negatifnya masih cukup mencemaskan”.
Sangat ironis memang ditengah gencarnya acara televisi yang 24 jam nonstop, kita masih membiarkan anak-anak kita tanpa aktifitas yang bermanfaat.
Tidak dipungkiri jika anak-anak di daerah perkotaan banyak yang mengalami obesitas dikarenakan kurangnya bergerak sementara asupan makanan terutama makanan siap saji sangat banyak dikonsumsi. Bandingkan dengan anak-anak di daerah pedesaan yang lebih sehat karena masih melakukan aktifitas permainan tradisional ataupun aktifitas membantu orangtuanya selain mungkin faktor ekonomi yang di bawah rata-rata yang menyebabkan mereka jangankan menonton televisi wong tv saja mereka tidak punya. Tetapi diluar hal tersebut dapat dibandingkan aktifitas yang mereka lakukan lebih banyak.
Dengan membaca artikel tersebut mudah-mudahan kita semakin lebih sadar bahwa moral anak-anak yang semakin brutal saat ini mungkin dikarenakan kita para orangtua sudah semakin jarang duduk bersama untuk berkomunikasi , memecahkan masalah dengan berdiskusi, curhat mengenai sekolah ataupun apapun yang melibatkan suasana keluarga yang sesungguhnya. Anak-anak mungkin tidak mendapatkan pemecahan masalah dikarenakan orang tua semakin sibuk sehingga nereka mencari solusinya dengan mengandalkan teman-temannya. Iya kalau teman-teman anak-anak kita termasuk anak-anak yang selalu berjalan di jalur positif..kalau tidak..walahualam..solusi apa yang akan mereka dapatkan.
Mudah-mudahan saya pribadi sebagai orang tua yang mempunyai anak dapat mengambil hikmah dari artikel ini dan memperbaiki diri sendiri khususnya. Dan mudah-mudahan para orangtua semua lebih aware lagi akan perkembangan anak-anaknya di era globalisasi ini yang memungkinkan anak untuk tumbuh lebih cerdas dalam memilih hal apapun di dunianya.


